Taksepantasnya kita melakukan hal yang kurang baik terhadap anak kita terutam dalam hal mengasuh.Karena tak semua pasangan selalu di beri atau dikaruniai anak.Tak sedikit pasangan harus menerima keyataan belum diberi anugrah ini. Maka sudah sepantasnya kita meyayagi dan mencintai anak-anak kita dengan sepenuh hati.
Menurutsaya, sudah sepantasnya kalian memilih wanita yang pendidikannya lebih tinggi. Mereka adalah calon ibu bagi anak-anak kalian. mengurus anak adalah pekerjaan utama, karir utama kita. Karena di pundak kita lah akhlak dan pendidikan anak-anak dibebankan. Bahkan seorang ibu haruslah cerdas karena ia adalah the first teacher untuk
Saatini, banyak negara-negara lain yang mencintai budaya Indonesia. Sampai-sampai ada kejadian negara lain yang mengklaim budaya Indonesia sebagai budaya negaranya. Sudah sepantasnya remaja Indonesia lebih mencintai budaya Indonesia, salah satunya dengan menjunjung dan menghargai produk-produk dalam negeri sendiri.
nama: Jhonson A Pasaribu Nim : 7111410052 Rombel : 04. saya setuju dengan artikel bapak,tpi kenyataannya bahasa indonesia telah mengalami perubahan yang cukup signifikan,ditandai dengan muncul nya bahasa-bahasa baru yang sering kita sebut bahasa “GAUL”.bahasa “GAUL” ini telah sangat jauh menyimpang dari tutur kata bahsa indonesia.kemungkinan besar dalam
Vay Nhanh Fast Money. Sikap yang sesuai dengan nilai pancasila. Sumber merupakan dasar negara Indonesia yang sekaligus menjadi pandangan hidup bangsa. Dalam kelima sila yang terdapat di Pancasila, ada banyak sekali contoh sikap yang sesuai dengan nilai pancasila dan bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan hal sudah dicontohkan sejak anak-anak di bangku sekolah. Oleh karena itulah, sudah sepantasnya kita sebagai warga negara yang baik untuk meneladani nilai-nilai dari pancasila dan Sikap yang Sesuai dengan Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-HariSikap yang sesuai dengan nilai pancasila. Sumber adalah penjelasan tentang contoh sikap yang sesuai dengan nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari yang dikutip dari buku Pancasila karya Suparman 2012.Nilai-nilai ketuhanan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai sila pertama adalah sebagai sesuai dengan agama dan kepercayaan yang orang lain yang agamanya berbeda dengan menolong antar sesama umat Sila Ke-2 KemanusiaanNilai-nilai kemanusiaan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai sila kedua Pancasila adalah sebagai membeda-bedakan orang yang ada di sekeliling membantu kepada persatuan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai sila ketiga pancasila adalah sebagai negara Indonesia dengan cara menjaga warisan budaya yang hubungan baik dengan teman-teman satu negara, meskipun berbeda suku, agama, dan perbedaan dan kerakyatan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai sila keempat pancasila adalah sebagai segala permasalahan dengan cara musyawarah untuk mencapai memaksanakan kehendak dan pendapat saat melaksanakan hasil musyawarah dengan lapang keadilan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai silai kelima pancasila adalah sebagai adil kepada setiap kewajiban dan menghormati hak orang lain.
“Di balik alasan untuk membenci, kenapa tidak mencari lebih banyak alasan lain untuk mencintai? Di negeri gemah ripah loh jinawi, Indonesia memiliki segudang alasan untuk ditinggali. Dari saat raga di kandung badan, hingga nanti terkubur di bumi pertiwi.” Tahun 2020-2021 sejak pandemi covid-19 melanda Indonesia. Menjadi tahun yang berat bagi sebagian orang, tak terkecuali bagi masyarakat Indonesia. Masalah-masalah baru datang silih berganti, mulai dari maraknya wabah hingga bencana alam di beberapa wilayah. Beragam respon pun bermunculan, mulai dari merindukan masa-masa aman bepergian sebelum pandemi, hingga guyonan ingin pindah kewarganegaraan. 1001 Alasan Tetap Mencintai Indonesia1. Negara Maritim Terbesar di Dunia2. Negara Kepulauan Terbesar di Dunia3. Kaya Terumbu Karang4. Hutan Indonesia Jadi Paru-Paru Dunia5. Terdiri dari Banyak Suku6. Budaya Gotong Royong7. Negara Paling Murah Senyum8. Negara Paling Dermawan9. Negeri Sejuta Destinasi10. Suara Adzan Di Mana Mana Apakah Sahabat salah satu di antaranya? Eits, tunggu dulu Sahabat. Meski diterpa berbagai masalah, masih ada 1001 alasan lain untuk tetap bertahan dan mencintai Indonesia. Berikut adalah 10 di antaranya; 1. Negara Maritim Terbesar di Dunia Secara geografis, luas lautan di Indonesia lebih besar dibandingkan dengan daratan. Hal ini membuat Indonesia disebut dengan negara maritim, bahkan termasuk yang terbesar di dunia. Luas perairan Indonesia adalah kilometer persegi. Selain itu, garis pantai Indonesia merupakan yang terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Sepanjang kilometer garis pantainya terlihat di hampir setiap pulau di Indonesia, atau 25 persen dari total panjang pantai yang ada di dunia. Wah, luar biasa sekali ya Sahabat! 2. Negara Kepulauan Terbesar di Dunia Selain dikenal sebagai negara maritime terbesar di dunia, Indonesia juga merupakan negara kepulauan terbesar. Dengan luas lebih dari kilometer, Indonesia memiliki pulau yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. Terbayang bukan? Betapa indahnya negeri ini! 3. Kaya Terumbu Karang Tidak heran, dengan sebutan negara maritim terbesar di Indonesia, terumbu karang adalah harta karun’nya lautan nusantara. Diperkirakan, terumbu karang Indonesia terhampar seluas kilometer persegi. Jumlah sebanyak itu menjadikan Indonesia diklaim memiliki 69% varietas terumbu karang yang ada di seluruh dunia. Julukan Amazon of the Ocean’ pun sah disandang negara kita. Keren ya? Lebih keren lagi kalau kita jaga agar laut kita tetap lestari. 4. Hutan Indonesia Jadi Paru-Paru Dunia Indonesia memiliki hutan tropis seluas Ha, menjadikannya disebut sebagai paru-paru dunia. Hutan nusantara juga menyimpan kekayaan flora dan fauna di dalamnya. Meskipun kini jumlahnya terus berkurang, kita harus tetap berusaha menyelamatkannya ya, Sahabat! 5. Terdiri dari Banyak Suku Kita patut berbangga karena Indonesia memiliki lebih dari suku yang memiliki ragam budaya dan tradisi. Meski berbeda-beda, kita disatukan oleh bhinekka tunggal ika’ yang semoga menjadikan Indonesia tetap utuh dan bersatu sampai kapanpun. Amiin ya rabbal alamin. 6. Budaya Gotong Royong Selain memiliki kekayaan alam yang luar biasa, negara kita juga punya budaya dan tradisi yang lain daripada yang lain. Salah satunya adalah gotong royong. Masyarakat Indonesia gemar bekerja sama dalam kegiatan apa pun. Budaya saling tolong menolong ini sulit sekali ditemukan di negara-negara lain terutama di negara maju yang lebih mengedepankan sifat individualistis. 7. Negara Paling Murah Senyum “Senyum itu ibadah” Sepertinya ungkapan itu dipegang teguh oleh warga Indonesia. Banyak turis yang mengaku bahwa masyarakat lokal Indonesia sangat ramah dan murah senyum. Hal ini ternyata diaminkan oleh sebuah penelitian yang dilakukan oleh The Smiling Report’ dari Swedia. Indonesia menempati posisi pertama sebagai negara yang paling ramah di dunia dengan skor 94%. Keren sekali ya! Yuk, Sahabat. Jangan lupa senyum hari ini Ÿ˜ŠBaca Juga12 Tips Memilih Jajanan Anak Sekolah 8. Negara Paling Dermawan Selain murah senyum, masyarakat Indonesia juga dikenal sebagai orang-orang yang baik dan suka memberi. Berdasarkan laporan Charities Aid Foundation CAF World Giving Index pada tahun 2018, Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara paling dermawan di dunia, dengan skor 46 % untuk membantu orang lain, 78% untuk berdonasi secara materi, dan 53% untuk melakukan kegiatan sukarela. 9. Negeri Sejuta Destinasi Pantai sebagai Surga Alam di Indonesia Orang-orang berlomba-lomba ke luar negeri ketika waktu liburan tiba. Padahal, Indonesia memiliki banyak tempat wisata yang indah dan pemandangan alam yang mengagumkan. Sahabat bisa menikmati keindahan terumbu karang di Alor, NTT, menyaksikan hewan yang masuk 7 keajaiban dunia di Pulau Komodo, hingga merasakan sensasi berada di tengah perbukitan Sumba yang begitu mempesona. Selain itu, masih banyak sekali wisata-wisata alam lain yang tak kalah menariknya untuk dikunjungi. Fakta ini bukan isapan jempol loh, Sahabat. Menurut majalah travel dan gaya hidup asal Amerika bernama Conde Nast Traveller, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara terbaik untuk dikunjungi. Wah, jadi semakin bangga ya jadi orang Indonesia. 10. Suara Adzan Di Mana Mana Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, masjid dan adzan menjadi 2 bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Hampir setiap daerah memiliki masjid ataupun mushollanya sendiri sehingga sangat mudah menemukannya. Ketika waktu sholat tiba, suara adzan bersahut-sahutan menghiasi langit negeri. Satu hal sederhana, tapi akan terasa apabila kita tidak sedang berada di Indonesia. Di luar negeri, fenomena ini akan jarang kita temukan karena penduduk muslimnya tidak sebanyak di Indonesia. Nah, Sahabat. Bagaimana? Dengan segala kelebihan tersebut, masih berniat ingin pindah kewarganegaraan? Kita doakan bersama, semoga Indonesia semakin baik, semakin berkah, dan masalah-masalah yang sedang dialami cepat terselesaikan. Amiin ya rabbal Alamin. Sahabat, mari bersama kita rawat Indonesia. Untuk kebaikan bersama, untuk Indonesia yang lebih baik.
Sudah 74 tahun berlalu, Indonesia masih terus berusaha menunjukan eksistensinya di mata dunia. Kalau disamakan dengan umur manusia, usia negara kita sudah begitu tua, ya. Well, kita patut bersyukur karena nggak harus angkat senjata untuk menjaga perdamaian seperti para pejuang di masa lalu. Apalagi negara kita ini memiliki angkatan muda terbesar, sehingga diperkirakan Indonesia bisa jadi salah satu negara maju yang patut diperhitungkan di masa depan. Itulah kenapa, sebagai generasi muda, kita memegang peranan penting untuk menjaga negara ini, karena di tangan para anak mudalah masa depan Indonesia akan di emban. Nah, berikut ini 8 cara mencintai Indonesia yang bisa kita lakukan, gaes. Menjaga dan merawat kebersihan lingkungan bersama Hingga saat ini, menjaga kebersihan lingkungan masih susah susah gampang untuk kita lakukan. Bukti di lapangan menunjukan bahwa masih banyak orang-orang yang suka buang sampah nggak pada tempatnya serta masih banyak perusahaan yang membuang sampah limbahnya ke sungai atau laut tanpa peduli apa dampaknya ke depan. Mungkin menurut kalian hal tersebut merupakan masalah yang sepele dan nggak perlu dibesarkan-besarkan. Tapi, menurut saya. Langkah pertama untuk mencintai negara Indonesia sendiri adalah dengan menjaga dan merawat negara ini. Ibarat sebuah rumah, kalian tentu nggak mau rumahnya kotor, bau dan banyak hewannya, kan? Sama dengan Indonesia yang merupakan negara yang kalian tempati. Menjaga dan merawat lingkungan bukan tanggung jawab Bapak Presiden Jokowi dan pemerintah saja, gaes. Tapi kita semua juga harus berperan untuk menjaga dan merawat negara ini bersama-sama. Yuk, mulai dari sekarang coba membentuk kesadaran diri sendiri untuk selalu menjaga kebersihan. Dimulai dari hal-hal sederhana seperti, jangan buang sampah sembarangan, cerdas dalam penggunaan plastik, hemat air, dan lain-lain. Taat lalu lintas saat berkendara di jalanan Suka kesel nggak, sih, kalian kalau ada orang yang bunyiin klakson mobil/motornya saat traffic light masih berwarna merah atau saat ada mobil/motor yang nyerobot sana sini atau saat ada sepeda motor yang menyalakan lampu sein kanan, tapi belok-nya ke kiri. Duh! Menurut saya, hal-hal seperti di atas itu sebenernya menunjukan bahwa kesadaran para pengendara untuk taat terhadap aturan lalu lintas di jalanan juga masih sangat rendah. Demi sampai di tempat tujuan lebih cepat, banyak dari kita yang bersikap egois dan seenaknya melanggar peraturan tanpa memperdulikan keselamatan dirinya dan orang lain. Well, sebagai generasi muda belum terlambat untuk berubah jadi lebih baik dan belajar menaati peraturan lalu lintas demi keselamatan bersama. Seperti nggak bunyiin klakson mobil saat lampu merah, nggak menerobos sana sini, nggak menggunakan jalur busway, atau nggak naik ke trotoar bagi para pemotor. Gimana, gampang, kan, gaes? Nggak menyebarkan ujaran kebencian atau berita hoaks Sebagai generasi muda yang lahir di era industri kita pasti sudah akrab berat dengan yang namanya internet. Tapi internet itu layaknya pedang bermata dua cielah…. Di satu sisi bisa memberikan dampak yang positif, tapi di sisi lainnya bisa jadi bencana kalau dipakai dengan cara yang salah. Maksudnya gini, gaes. Internet bisa jadi sarana kita untuk menyalurkan rasa cinta kepada Indonesia. Contoh sederhananya dengan nggak melakukan ujaran kebencian yang menyinggung hal sensitif ke orang-orang di sekitar kita Trus, kita juga nggak boleh menyebarkan berita hoaks lewat akun sosial media. Toh, masih banyak hal-hal positif yang bisa kita sebarkan lewat media sosial. Misalnya, menyebarkan prestasi-prestasi anak muda Indonesia yang berkompetensi di ajang internasional, bantu sebarin informasi mengenai prospek jurusan kuliah A B C D atau profesi kekinian yang sedang hits, dan sebagainya. Oyaa, kalau kita mendapatkan informasi yang agak membuat kita resah, kita harus cek dulu sumber beritanya. Jangan langsung ditelan mentah-mentah, ya. Soalnya, dengan meminimalisir berita hoaks atau ujaran kebencian, kita akan lebih nyaman saat berselancar di dunia maya. Intinya, jadilah generasi muda yang cerdas dan bijak saat menggunakan internet. Supaya nggak cuma smartphone kita aja yang pintar, tapi si pemakainya juga. Hihihi. Menghargai para seniman dengan nggak membeli kaset bajakan Siapa yang di sini masih suka mengunduh lagu atau film dengan gratisan? Yaps! Kebiasaan kita mengunduh lagu atau film dengan gratisan sepertinya sudah berlangsung sejak dulu kala hingga sekaran. Kenapa bisa gitu? Soalnya, nggak bisa dipungkiri. Saya, kamu dan mereka lebih suka cara yang instan dan gratis daripada harus bayar. Padahal membuat musik yang bagus itu nggak mudah, lho. Begitu juga dengan para sineas yang sudah bekerja keras demi menghasilkan film yang kece dan keren. Mulai sekarang, mari sama-sama belajar menghargai karya para seniman, yuk, gaes. Caranya mudah kok. Misalnya dengan nggak membeli kaset bajakan. Menonton film yang ingin kita tonton di bioskop. Walau lebih mahal, seenggaknya sedikit demi sedikit kita bisa menghentikan pembajakan ilegal yang merugikan negara kita ini. Menikmati indahnya Indonesia dengan traveling ke pelosok negeri “Aku mau liburan ke Singapura.” “Kalau aku mau ke Jepang.” Well, kalau biasanya destinasi liburanmu itu ke luar negeri. Next time, cobalah traveling ke pelosok Indonesia. Nikmati pesona alam dan budaya negara Indonesia yang begitu mempesona di Raja Ampat, Bali, Jogja, Kalimantan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Tentu akan amat disayangkan sekali kalau kita melewatkan keindahan ini begitu saja. Karena dengan kita mencoba untuk menikmati segala pesona Indonesia yang ada, rasa cinta dan sayang akan negeri ini akan tumbuh dengan sendirinya, kok. Bangga memakai produk asli buatan Indonesia Bangga memakai produk buatan dalam negeri adalah salah satu cara selanjutnya yang bisa kita lakukan sebagai generasi muda untuk menunjukan rasa cintanya kepada Indonesia. Eittss… jangan salah! Produk-produk asli Indonesia juga nggak kalah keren dengan buatan luar negeri, lho. Bahkan, beberapa produk seperti tas, sepatu baju atau make up berhasil dipasarkan ke luar negeri. Selain bangga produk asli buatan Indonesia bisa go internasional, kita juga ikut serta memajukan perekonomian dan lebih menghargai produk buatan negara sendiri. Nggak melupakan budaya dan tradisi Indonesia Di tengah derasnya arus globalisasi, otomatis akan memudahkan masuknya segala hal ke dalam negeri. Ironisnya adalah sekarang ini budaya dan tradisi khas Indonesia mulai tergerus dengan budaya asing, seperti K-Pop, dan sebagainya. Of course, menurut saya belajar budaya atau bahasa asing itu penting. Tapi, jangan sampai lupa, sebagai generasi penerus bangsa yang baik sudah selayaknya kita terus melestarikan budaya dan tradisi kita. Karena budaya dan tradisi asli Indonesia yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita itu sangat banyaakk sekali—mulai dari Sabang hingga Merauke. Jadi, jangan sampai pernah melupakan tradisi dari Indonesia meskipun saat ini kamu sedang menempuh jurusan kuliah Sastra Inggris, Arab, Jerman, Korea atau Cina, ya. Tetap menjaga persatuan dan kesatuan negeri tercinta Yang terakhir dan paling penting adalah menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Jangan pernah lupakan semboyan negara kita yang begitu indah yaitu Bhinneka Tinggal Ika, Berbeda-Beda Tapi Tetap Satu Jua. Fyi, masa depan bangsa Indonesia ini ada di tangan kita. Sebagai generasi muda, kita harus menghargai setiap perbedaan yang ada. Jangan biarkan perbedaan tersebut membuat kita terpecah belah. Justru harus membuat semakin kuat, karena itulah yang membuat negara kita istimewa. *** Itu dia beberapa cara sederhana menurut saya yang bisa kita lakukan sebagai generasi muda untuk menunjukan rasa cinta kepada negara. Nggak usah muluk-muluk, yuk, coba cara sederhana di atas untuk Indonesia yang lebih baik. Baca Juga Beragam Kegiatan yang Dilakukan Untuk Merayakan Hari Kemerdekaan di Indonesia Cinta Negara Dengan Berpijak di Indonesia Gloria Natapradja Hamel dan Archandra Tahar Cintaku Ditolak Indonesia? Sumber gambar
Sebagai warga negara, kita diharapkan mencintai bangsa dan tanah air seutuhnya. Kecintaan itu sejak usia kanak-kanak sudah ditanamkan. Penanaman sikap sebagaimana yang dimaksudkan itu dilakukan melalui berbagai cara. Pelajaran sejarah bangsa di sekolah-sekolah tidak lain adalah bertujuan untuk menumbuh-kembangkan kecintaan terhadap bangsa dan negaranya sendiri. Selain itu, semua warga negara, sejak usia dini, diperkenalkan lambang-lambang kebangsaan, yaitu seperti bendera merah putih, lagu kebangsaan, simbul negara yakni burung garuda, dan lain-lain. Selain itu, mereka juga diperkenalkan para tokoh pahlawan bangsa, seperti misalnya Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, KH. Hasyim Asy'ary, KH Moh. Dahlan, Sam Ratulangi, dan sebagainya. Usaha-usaha menanamkan kecintaan terhadap bangsa dan negaranya sendiri tidak cukup dilakukan secara sporadis, musiman, atau hanya kadang-kadang jika dianggap perlu. Hal itu harus dilakukan secara terus menerus tanpa henti. Hanya dengan cara itu, maka kecintaan itu akan tetap tumbuh dan terpupuk pada masing-masing hati warga negaranya. Kecintaan sebagaimana dimaksudkan itu harus dimiliki oleh semua warga negara. Atas dasar kecintaan itu, maka mereka akan bersedia membela, memperjuangkan, dan juga berkorban untuk bangsanya sendiri. Tanpa kecintaan yang mendalam, maka sebagai warga negara tidak akan merasa memiliki terhadap negaranya sendiri. Akhirnya, yang tampak adalah sikap acuh, tidak peduli, dan bahkan tidak merasa menjadi bagian dari bangsa dan negaranya sendiri. Seseorang yang mengaku sebagai pemimpin dan juga tokoh bangsa, namun masih saja berkeinginan mengambil keuntungan untuk kepentingan pribadi, kelompok, dan golongannya adalah oleh karena kecintaan mereka terhadap bangsa dan negaranya sendiri belum seutuhnya. Mereka baru merasa bahwa sesuatu adalah miliknya, hanya tatkala sesuatu itu sudah berada di tangannya. Kenyataan seperti itu, sekalipun yang bersangkutan sudah merasa menjadi tokoh, namun menunjukkan bahwa kecintaan terhadap bangsanya masih lemah. Sudah disadari dan dinyatakan bahwa, bangsa ini adalah majemuk, baik dari sudut etnis, adat istiadat, bahasa daerah, mata pencaharian, dan bahkan juga agamanya. Perbedaan itu sudah diakui dan dianggap sebagai sesuatu yang diterima oleh semuanya. Pada lambang negara berupa gambar burung garuda secara tegas menunjukkan adanya kebhinekaan itu. Oleh karena itu, mencintai bangsa, negara dan tanah air, artinya adalah mencintai semua yang beraneka ragam itu. Tatkala sebagai warga negara menyatakan kecintaannya terhadap bangsa dan tanah airnya, maka mereka yang berada di Aceh, atau kebetulan beretnis Aceh, sebagai bagian dari bangsa Indonesia, seharusnya mampu menunjukkan kecintaannya pada suku-suku lainnya, mulai suku Aceh sendiri hingga suku di Papua, sepenuhnya. Begitu pula sebaliknya, etnis Papua harus mampu mencintai berbagai suku yang ada di Indonesia, mulai dari etnis Papua sendiri hingga mereka yang menjadi suku Aceh. Hal demikian itu juga menyangkut agama. Bangsa Indonesia memeluk berbagai jenis agama, seperti Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu. Bangsa ini memang terdiri dari berbagai pemeluk agama itu. Perbedaan yang disandang oleh masing-masing orang, kelompok atau masyarakat itu telah disatukan menjadi bangsa Indonesia. Adanya gereja di berbagai wilayah, adalah memang di wilayah itu ada umat Kristen dan atau Nasrani. Begitu pula di mana saja terdapat masjid oleh karena di tempat itu terdapat kaum muslimin yang sehari-hari membutuhkan tempat ibadah. Adanya Vihara, pura, klenteng, dan mungkin juga lainnya, adalah oleh karena dibutuhkan warga Indonesia yang beragama bermacam-macam itu. Sebagai orang yang hidup di masyaerakat majemuk, plural, atau bhineka seperti itu, seyogyanya tidak perlu khawatir apalagi takut terpengaruh terhadap berdirinya tempat ibadah itu. Kaum muslimin di daerah yang mayoritas beragama Kristen, Katholik, atau di Bali yang mayoritas beragama Hindu misalnya tidak perlu mengalami kesulitan membangun masjid, asalkan semua persyaratannya sudah terpenuhi. Demikian pula, penganut agama lainnya seharusnya merasakan hal yang sama. Sebab kebutuhan terhadap tempat ibadah bagi seseorang atau masyarakat yang religious sudah sama mendesaknya dengan kebutuhan terhadap makanan sehari-hari. Manakala kecintaan terhadap bangsa, negara, dan tanah air sudah sampai pada tingkat mendalam, maka orang tidak akan lagi mempersoalkan atas adanya perbedaan itu. Perbedaan justru akan dipahami sebagai modal melakukan fastabiqul khairaat, atau berlomba-lomba di dalam melakukan kebaikan. Semangat berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan akan mengubah masyarakat dari fase kesadaran bereksistensi menuju pada kesadaran berkualitas. Sekalipun pada awalnya, orang bangga terhadap symbol, jumlah, dan lambang, maka pada suatu saat kebanggan itu akan bergeser, yakni berusaha meraih hakekat yang sebenarnya. Umat Islam sebagai tanda kecintaannya terhadap bangsa, negara, dan tanah air, sanggup memberikan apapun yang terbaik. Islam mengajarkan hal yang demikian itu. Kecintaan terhadap bangsa dan tanah air, bagi umat Islam, mendasarkan pada teologi yang jelas, yakni dikaitkan dengan keimanan. Mencintai tanah air dipandang sebagai bagian dari keimanan. Oleh karena itu, dalam sejarah bangsa ini, dipimpin oleh para tokoh dan ulama, sebagai wujud kecintaannya terhadap bangsa dan tanah air, umat Islam sedemikian mudah digerakkan untuk berjuang mengusir penjajah. Wallahu a'lam.
sudah sepantasnya kita mencintai indonesia karena indonesia adalah